BAB I
Pendahuluan
Menurut Drs. H. Toto Tasmara (2010/12/30), dalam buku
Komunikasi Dakwah secara sederhana memberikan pengertian komunikasi. Seseorang
yang berkomunikasi berarti mengharapkan agar orang lain dalam hal ini yang
diajak berkomunikasi untuk dapat ikut berpartisipasi atau tindakan sama sesuai
dengan tujuan, harapan atau isi pesan yang disampaikan. Dengan penekanan bahwa
komunikasi berarti upaya untuk mengadakan persamaan atau commonness dengan
orang lain dengan cara menyampaikan keterangan, berupa suatu gagasan ataupun sikap.
Dengan berkomunikasi sebenarnya mengharapkan atau bertujuan
terjadinya perubahan sikap atau tingkah laku orang lain untuk memenuhi harapan
sebagaimana pesan disampaikan. Perubahan sikap dan tingkah laku akibat dari
proses komunikasi adalah perubahan sikap yang sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh komunikator. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh komunikator pada
komunikasi akan mempengaruhi sikat komunikan sejauh kemampuan komunikator dalam
mempengaruhinya.
Agama bukanlah sesuatu yang bersifat subordinate terhadap
kenyataan social-ekonomi, agama pada dasarnya bersifat independen, yang secara
teoritis bisa terlibat dalam kaitan saling mempengaruhi dengan kenyataan
social, oleh karenanya Mattulada dkk dalam buku Agama dan Perubahan Sosial
mengungkapkan bahwa, Agama mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk menentukan
pola prilaku manusia. Sehingga ajaran agama akan mampu mendorong atau menahan
proses perubahan social.
A.
Pengertian Komunikasi Dakwah
Menurut Colin Chery, (2010/12/30) berdasarkan pendekatan
sosiologis mendefinisikan komunikasi sebagai uasaha untuk membuat satuan sosial
dari individu dengan menggunakan bahasa, atau tanda dalam memiliki sendiri
serangkaian peraturan untuk berbagai kegiatan guna mencapai tujuan, kominikasi
merupakan peristiwa sosial yang bertujuan untuk memberikan informasi, membentuk
pengertian, menghibur, bahkan mempengaruhi orang lain.
Colin Chery melanjutkan, sebenarnya dakwah itu sendiri
adalah komunikasi, dakwah tanpa komunikasi tidak akan mampu berjalan menuju
target-target yang diinginkan, demikian komunikasi tanpa dakwah akan kehilangan
nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan. Maka dari sekian banyak definisi dakwah ada
sebuah definisi yang menyatakan, bahwa dakwah adalah proses komunikasi efektif
dan kontinyu, bersifat umum dan rasional, dengan menggunakan cara-cara ilmiah
dan sarana yang efesien, dalam mencapai tujuan-tujuannya .
Jalaluddin Rakhmat (2010/12/30), berpendapat bahwa juru
dakwah atau orang yang menyampaikan (tabligh) pesan dakwah disebut dalam ilmu
komunikasi sebagai komunikator atau orang yang menyampaikan pesan kepada pihak
komunikan. Secara umum komunikasi memiliki kecenderungan menyampaikan
pesan-pesan yang sifatnya lebih umum, baik tentang informasi yang sifatnya
ilmiah ataupun yang lainnya. Komunikasi sendiri memiliki banyak keterkaitan
dengan keilmuan-keilmuan umum seperti psikologi, serta ilmu-ilmu social
lainnya. Komunikasi dan dakwah menurut Jalaluddin Rakhmat dengan
menggabungkan ide dakwahnya melalui kemampuan berkomunikasi yang baik, sehingga
jelas bahwa baik kata komunikasi ataupun dakwah secara khusus tidak memiliki
kesamaan, namun secara umum kesamaan antara komunikasi dan dakwah pada pesannya
dimana pesan pada keilmuan bidang komunikasi lebih bersifat umum sedangkan
pesan yang ada dalam keilmuan bidang dakwah lebih khusus pada bidang keagamaan
Islam.
B.
Hubungnan Proses Komunikasi Dengan Penyampaian Pesan Dakwah
Dalam ajaran Islam, komunikasi mendapatkan tekanan yang
cukup kuat bagi manusia sebagai anggota masyarakat, dan sebagai makhluk Tuhan,
Allah Berfirman :
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas" (QS. Ali Imran : 112).
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas" (QS. Ali Imran : 112).
Dalam Interaksi antara Da'i dan Mad'u, Da'i dapat
menyampaikan pesan-pesan dakwah (materi dakwah), melalui alat atau sarana yang
ada. Komunikasi dalam proses dakwah tidsak hanya ditujukan untuk memberikan
pengertian, mempengaruhi sikap, membina hubungan sosial yang baik, tapi tujuan
terpenting dalam berkomunikasi adalah mendorong Mad'u untuk bertindak
melaksanakan ajaran-ajaran agama dengan terlebih dahulu memberikan
pengertian-pengertian, mempengaruhi sikap, dan membina hubungan baik.
Dalam proses bagaimana Mad'u menerimsa informasi,
mengolahnya, menyimpan, dan menghasilkan informasi dalam psikologi komunikasi
disebut sebagai sistem komunikasi Intra Personal. Jalaluddin Rakhmat memandang
dalam proses penyampaian pesan dakwah melalui media baik cetak maupun
elektronik, seorang juru dakwah harus mampu menyesuaikan kedudukannnya sebagai
komunikator yang berhadapan dengan sekian banyak audiens dan dengan latar
belakang pendidikan, usia, profesi yang berbeda.
Dalam
penyampaian pesan dakwah secara lisan atau langsung, juru dakwah akan
berhadapan dengan kelompok audiens yang mempunyai kecenderungan sama. Sehingga
para juru dakwah dapat menampilkan penyampaian pesan dakwah yang sesuai dengan
kebutuhan. Baik penyampaian dakwah secara langsung atau tidak langsuang, jelas
mempunyai perhubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan proses komunikasi
mengingat komunikasi mempunyai sifat baik secara langsung atau tidak langsung.
C.
Tujuan Komunikasi Dakwah
Tujuan dakwah ataupun tujuan komunikasi memiliki kesamaan,
komunikasi dan dakwah memiliki tujuan untuk merubah prilaku orang yang diajak
berkomunikasi atau orang yang sedang menerima dakwah agar mengikuti seruan atau
ajakan yang disampaikan. Jalal hanya tidak pernah menyampaikan komunikasi yang
dikaitkan dengan dakwah, namun dalam pengertian-pengertian yang diuraikan dalam
memahami semua unsur dan kegiatan komunikasi mempunya kesamaan dengan semua
unsur dan kegiatan dalam hal dakwah. Baik tujuan dari komunikasi ataupun tujuan
dari dakwah adalah proses dimana seseorang menghendaki adanya perubahan sikap
dan tingkah laku orang atau objek komunikasi atau dakwah sesuai dengan harapan
si pelaku.
Tujuan yang hendak dicapai dari komunikasi dakwah itu
sendiri memiliki tiga dimensi. Pertama, tujuan awal dimana tujuan dari proses
komunikasi dakwah itu adalah terjadinya perubahan pemikiran, sikap dan prilaku
dari komunikan. Kedua, tujuan sementara dimana tujuan ini hanya difokoskan pada
perubahan kehidupan selama di dunia saja. Adapun yang hendak dicapai dari
tujuan komunikasi dakwah itu sendiri mencakup dua tujuan diatas sampai pada
tujuan akhir dimana adanya kebahagiaan di dunia dan akhirat .
D.
Urgensi Komunikasi dan Dakwah
Bertitik tolak dari firman Allah dalam Q.s An-Nahl ayat 125
bahwa ada tiga metode dalam berdakwah yaitu Hikmah, Mauidzah Hasanah, dan
Mujadalah. Ketiga metode tersebut menunjukkan ke-urgensi-an berdakwah bagi kita
sebagai umat islam, apalagi kita korelasikan dengan firman Allah dalam surat
Ali-Imran ayat 104. Ayat-ayat tersebut menunjukkan urgensi dakwah islamiyyah
dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila kita kaitkan dengan urgensi komunikasi dalam dunia
dakwah, ini berarti bahwa peranan komunikasi begitu signifikan dalam dunia
dakwah. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang banyak digunakan dalam usaha
dakwah ialah melalui komunikasi efektif, sehingga pokok atau tujuan dakwah kita
sesuai dengan apa yang kita harapkan. Maksudnya, ada kesesuaian pemahaman
antara mubaligh atau penyampai dan mustami atau pendengar.
Kecakapan seseorang dalam berkomunikasi menentukan sejauh
mana wawasan pengetahuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Orang yang luas
wawasan pengetahuan dan pergaulannya cenderung mudah melakukan komunikasi,
adaptasi, dan sosialisasi. Sebaliknya orang yang sempit baik wawasan
pengetahuan maupun pergaulannya cenderung sulit dalam menyampaikan suatu ide
atau gagasan apalagi ketika ia bersosialisasi dengan orang lain.
Menurut Beach (Moekijat, 1993, h. 7), dalam bukunya yang
berjudul “Personnel The Management People at Work” mengatakan bahwa urgensi
komunikasi dapat dilihat dari fungsi komunikasi tersebut, dimana fungsi
komunikasi ialah : menyampaikan informasi pengetahuan dari satu orang kepada
orang lain, sehingga akan terbentuk tindakan kerjasama, komunikasi membantu
mendorong dan mengarahkan orang-orang untuk melakukan sesuatu, komunikasi
membentuk sikap dan menanamkan kepercayaan ntuk mengajak, meyakinkan, dan
mempengaruhi perilaku.
Dari uraian tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa
urgensi komunikasi berhubungan dengan informasi yang tersampaikan, menanamkan
suatu kepercayaan dalam melakukan sesuatu. Urgensi komunikasi dan dakwah sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PARADIGMA DAKWAH KOMUNIKASI
Dakwah adalah bagian dari term kata yang khusus dan melekat
dalam Islam, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya kata dakwah juga
dipakai oleh masyarakat di luar Islam untuk berjuang (provokasi dan agitasi)
atau mengajak umatnya dalam menyeru kebaikan serta memperkuat akidahnya. Dakwah
yang demikian merupakan bentuk bagian komunikasi yang dipergunakan oleh
agamawan dengan memaknai bahwa pentingnya keberadaan dakwah dalam
keberlangsungan umat dan kehidupan manusia sepanjang masa. Dalam konteks Islam,
khususnya pada saat perjuangan Rasulullah saw dalam menegakan panji Islam maka
dakwah adalah cara atau strategi yang atraktif. Dakwah Rasululullah saw yang
berlangsung dan terjadi ketika di Mekkah dan Madinah membawa dampak positif
bagi akselerasi penyebaran agama serta perkembangan kuantitas umat muslim saat
itu.
A.
Makna dan Lingkup Dakwah.
Dalam bahasa al Qur'an, dakwah terambil dari kata دعا – يدعو -
دعوة , yang secara
lughawi (etimologi) memiliki kesamaan makna dengan kata an-nidâ (النداء) yang berarti menyeru atau
memanggil (Hasan
al-Jamsi, h. 24). Kata ini dan derivasinya menurut informasi yang
diperoleh dari peneliti al-Qur‘an kenamaan Muhammad Fu‘ad Abdul Baqy terulang
sebanyak 215 kali (Fu‘ad Abdul Baqi, 2000, h. 330-333).
Ketika menjelaskan istilah tersebut,
pakar bahasa Ibn Manzûr menyebutkan beberapa arti yang terkandung seperti
berikut: Pertama, meminta pertolongan (الاستغاثة) seperti ucapan seseorang ketika
bertemu musuhnya dalam keadaan sendirian “fad'ul-muslimîn“ yang menurut
Ibn Manzur dapat disamakan dengan "istaghitsû al muslimin"
(minta tolonglah pada muslimun) (Ibn Manzur al Afrîki, h. 285). Kedua,
lanjutnya, menghambakan diri (Ibâdah), baik kepada Allah SWT
maupun kepada selain Allah SWT. Seperti dalam firman-Nya (QS al-A'râf: 194). Ketiga,
masih menurut Ibn Manzur, memanjatkan permohonan kepada Allah SWT
(berdoa) seperti dalam firman-Nya QS al Baqarah: 186. Keempat,
persaksian Islam (syahâdat al Islâm). Seperti surat nabi Muhammad SAW
kepada Heraklius "...أدعوك بدعاية الإسلام " (aku memanggil
kamu dengan persaksian tentang Islam). Kelima, memanggil atau mengundang
(an-nidâ). Seperti dalam firman Allah (QS al-Ahzab: 46). Senada dengan
Ibn Manzur, pakar al Qur'an kenamaan al-Asfihany, menyebutkan adanya kesamaan
kata ad-du'â dengan an-nidâ yang berarti memanggil namun dengan
argumen yang berbeda. Kesimpulan ini, oleh al Asfihâni didasarkan atas firman
Allah SWT (QS al-Nûr: 63). Islam disebut sebagai agama dakwah dînud-da’wah,
karena ia mengajak orang agar berkenan mengikuti seruannya.
Sedangkan dari tinjauan
aspek terminologis, pakar dakwah Syekh Ali Mahfuz (h. 17), mengartikan dakwah
dengan mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk Allah SWT, menyeru mereka
kepada kebiasaan yang baik dan melarang mereka dari kebiasaan buruk supaya mendapatkan
keberuntungan di dunia dan akhirat. Pengertian dakwah yang dimaksud, menurut
Ali Mahfuz lebih dari sekedar ceramah dan pidato, walaupun memangg secara lisan
dakwah bisa diidentikan dengan keduanya. Lebih dari itu, dakwah juga meliputi
tulisan bil-qalam dan perbuatan sekaligus keteladanan bil-hâl
wa-qudwah. Sayyid Qutb (1982, j. ke-1, h. 187), lebih memandang dakwah
secara holistik, yaitu sebuah usaha untuk mewujudkan sistem Islam dalam
kehidupan nyata dari tataran yang paling kecil, seperti keluarga, hingga yang
paling besar, seperti negara atau ummah dengan tujuan mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan sistem tersebut, menurut Quraish Shihab
(1992, h. 194), diperlukan keinsafan atau kesadaran masyarakat untuk melakukan
perubahan dari keadaan yang tidak atau kurang baik menjadi baik.
Dakwah juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk
memotivasi orang dengan basirah supaya menempuh jalan Allah SWT dan
meninggikan agamanya. Dakwah Islam adalah dakwah basirah, maknanya
berarti dakwah yang disebarluaskan dengan cara damai dan bukan dengan
kekerasan, serta mengutamakan aspek kognitif (kesadaran intelektual), dan
afektif (kesadaran emosional). Dakwah demikian ini, lebih lanjut disebut
sebagai dakwah persuasive, (Aziz Ibn Farhan dan Ibn Abd al-Aziz, 2005,
h. 14). Dalam al-Qur’an, disebutkan bahwa tujuan dari pengutusan Rasulullah
adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Arti dari pernyataan ini, yaitu
bahwa kedatangan Rasulullah dengan risalah Islam itu harus mendatangkan ketenangan
dan kebahagiaan hidup bagi manusia.
Dakwah juga dipandang sebagai tugas para Rasul Allah swt,
(Abdul Karim Zaidan, 2001, h. 308). Walaupun manhaj dan syari'atnya berlainan,
tetapi esensi pesannya adalah ajakan kepada manusia untuk hidup dalam sikap “islam”
(tunduk dan pasrah kepada sang pencipta).
Bagi Ahmad Mahmud (h. 14), dakwah jika ditinjau dari
segi kosa kata, merupakan bentukan kata kerja inklinasi (kecondongan) dan
motivasi (fi'lun imâlatun wa targhîbun). Melalui analisa ini, dakwah
diartikan sebagai usaha memberikan penawaran kepada orang supaya bersikap
condong dan termotivasi melakukan ajaran Islam itu. Dakwah kepada Islam,
artinya tugas untuk mempengaruhi orang agar ia menjadi condong dan menyukai
Islam, baik dengan cara teoritis atau nasehat, maupun secara praktis atau
keteladanan (min qoulin au fi'ilin).
B.
Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),
secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari Bahasa Latin communicatus,
dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis
ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha
yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Komunikasi secara
terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh
seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat
dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan
Steward (1998, h. 16) mengenai komunikasi manusia yaitu:
Human communication is the process
through which individuals –in relationships, group, organizations and
societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one
another.
(Bahwa komunikasi manusia adalah
proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok,
organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi
dengan lingkungan satu sama lain).
Komunikasi adalah salah satu aktivitas
yang sangat fundamental dalam kehidupan
manusia. Kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan
sesamanya, sudah pasti diakui oleh semua manusia yang hidup di dunia ini.
Pengertian komunikasi menurut Wilbur Schramm, yang dikutip oleh M.O.
Palapah dan Atang Syamsudin (1983, h. 2-3) sebagai berikut:
Communication berasal dari latin yaitu communis, yang arti
common, sama. Jadi jika kita mengadakan komunikasi dengan suatu pihak, maka
kita mengatakan gagasan kita untuk memperoleh Commonnes dengan pihak lain
itu mengenai suatu objek tertentu.
Jelaslah bahwa komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan
kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota
masyarakat. Istilah Komunikasi berasal dari bahasa latin yakni
dari kata Communicatio Istilah ini bersumber dari kata Communis yang berarti sama dan dalam
bahasa Inggris adalah Communication. Istilah Communis disebut sebagai asal kata komunikasi yang juga merupakan
akar dari kata- kata latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyatakan bahwa
suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan yang dianut secara sama. Bila kita
berbicara mengenai komunikasi tidak ada definisi yang benar atau pun salah,
seperti juga model atau teori, definisi haruslah dapat dilihat dari
pemanfaatannya untuk dapat menjelaskan suatu fenomena yang akan didefinisikan
beberapa definisi komunikasi.
Collin Cherry (Rakhmat, 2003, h.7-8), mendefinisikan
komunikasi sebagai “Usaha untuk membuat satuan sosial dari individu dengan
menggunakan bahasa atau tanda memiliki bersama serangkaian peraturan untuk
berbagai kegiatan mencapai tujuan”. Proses transaksional lanjutnya, meliputi
pemisahan dan pemilihan bersama lambang secara kognitif begitu rupa sehingga
membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya sendiri arti atau
respon yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber.
Hakekat dari komunikasi adalah suatu proses pernyataan
antar manusia dimana yang dinyatakan itu adalah suatu pikiran atau perasaan
sesorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.
Dalam bahasa komunikasi pernyataan dinamakan Pesan (Message), Orang yang
menyampaikan pesan disebut Komunikator, sedangkan orang yang menerima
pernyataan disebut Komunikan. Untuk lebih tegasnya komunikasi berarti proses
penyampaian oleh komunikator kepada komunikan.
2. Proses
Komunikasi
Proses komunikasi menurut Palapah dan Atang Syamsudin (Effendy, 2002, 11-16), terbagi menjadi
dua, secara primer dan proses komunikasi secara sekunder. Proses
komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan simbol sebagai media. Lambang
sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat,
gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menterjemahkan”
pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
Sedangkan proses komunikasi secara
sekunder menurut Effendy, adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah
memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media
kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya
berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon,
teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi, adalah
media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.
3. Fungsi
Komunikasi
Menurut Effendy (2002, h. 36), fungsi
komunikasi; pertama, menginformasikan kepada masyarakat mengenai
peristiwa yang terjadi, baik itu ide atau pikiran, tingkah laku orang lain,
serta segala sesuatu yang disampaiakn orang lain. Kedua, sebagai sarana pendidikan, dengan
komunikasi manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada orang lain
sehingga orang lain mendapatkan informasi dan pengetahuan. Ketiga,
berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain. Keempat,
berfungsi untuk mempengaruhi setiap individu yang berkomunikasi, tentunya
dengan cara saling mempengaruhi jalan pikiran komunikandan lebih jauh lagi
berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang
diharapkan.
Bila dilihat dari fungsi kmunikasi yang telah dikemukakan
diatas bahwa komunikasi tidak dapat dilepaskan dan memegang peranan penting
dalam kehidupan manusia sehari-hari terutama dalam lingkungan kehidupan
bermasyarakat.
4.
Tujuan Komunikasi
Sedangkan tujuan komunikasi pada
umumnya menurut Cangara Hafied (Hafied, 2002, h. 22), adalah mengandung
hal-hal; pertama, supaya yang disampaikan dapat dimengerti. Kedua, memahami orang agar gagasannya
dapat diterima oleh orang lain. Ketiga, komunikator harus berusaha
dengan menggunakan pendekatan yang persuasif bukan dengan memaksakan kehendak. Kelima,
menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Menggerakkan sesuatu itu dapat
berupa kegiatan yang lebih banyak mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu
yang kita kehendaki.
DAFTAR PUSTAKA
Ruben, Brent D, Stewart, Lea P, 2005, Communication
and Human Behaviour, USA: Alyn and Bacon.
Rakhmat,
Jalaluddin, 1985, Psikologi Komunikasi, Bandung : Remadja Karya. Effendy, Onong
Uchjana, 2002, Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Pengantar
Ilmu Komunikasi, Jakarta: Grasindo Rosdakarya.
Cangara, Hafidz, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Al-Ghazali,
Muhammad, 1981. Ma’a Allah. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-Arabi.
Ali Aziz, Moh, 2004, Ilmu Dakwah, Ed. I, Jakarta: Kencana, cet. ke-1
Saleh,
Abdul Rosyad, 1993, Manajemen Dakwah Islam, Jakarta: Bulan Bintang,
cet. ke-3
Afandi,
Bisri, 1984, Beberapa Percikan Jalan Dakwah, Surabaya: Fakultas
Dakwah Surabaya.
Habib,
Syafa'at, 1981, Buku Pedoman Dakwah, Jakarta: Wijaya.
Ahmad,
Amrullah, 1983, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Yogyakarta:
Primaduta.
Salim,
Abdul Muin, 28 April 1999, Metodologi Tafsir; Sebuah Rekontruksi
Epitemologi Memantapkan Keberadaan Ilmu Tafsir Sebagai Disiplin Ilmu (Orasi
Pengukuhan Guru Besar Dihadapan Rapat Senat Luar Biasa IAIN Alauddin Makassar.
Ghazali,
M. Bahri, 1997, Dakwah Komunikatif Membangun Kerangka Dasar Ilmu Komunikasi
Dakwah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, cet. ke-1.
Toto
Tasmara, Komunikasi Dakwah.
http://rizalalsam.blogspot.com/2010/12/komunikasi-dalam-proses-dakwah.html.
Di akses tanggal 3 juni 2011
Departemen
Agama RI, 1995, Alquran dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penafsir dan
Penterjemah al-Qur’an.
Marsekah
Fatwa, 1978, Tafsir Dakwah, Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
Fadullah,
Muhammad Husain, 1997, Uslub ad-Dakwah fi al-Quran, diterjemahkan
oleh Tarmana Ahmad Qasim, dengan judul Metodologi Dakwah Dalam al-Quran
Pegangan Bagi Aktifis, Jakarta: Lentera, cet. ke-1.
Bachtiar,
Wardi , 1997, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, cet. ke-1.
Natsir,
Muhammad, 1991, Fiqh al-Dakwah. Jakarta; Ramadhan, cet. ke-XI
Al-Jamsi,
Muhammad Hasan, al Du’at wa al Da’wat al Islamiyyah al-Mu’asirah,
Damaskus: Dar al Rasyid, ttn.
Abd
al-Baqi, Fu’ad, 2000, Mu'jam Mufahras Li Alfaz al-Qur’an al-Karim,
Beiruth: Dar al-Fikr.
Ibn
Manzur al-Afriki, Muhammad Mukarram, Lisan al-Arab, Beiruth: Dar
al-Sadir, ttn, cet. ke-1.
Mahfuz,
Ali, Hidayat al-Mursyidin Ila Turuq al-Wa’zi Wa al-Khitabah, Beiruth:
Dar al-Ma’rifah, ttn.
Qutb,
Sayyid, 1982, Tafsir fi Zilal al-Qur’an, Beirut: Dar al-Syuruq,
Juz. Ke-1.
Shihab,
Quraish, 1992, Membumikan al- Qur’an, Bandung: Mizan, ttn
Farhan, Aziz
Ibn, 2005, Da’wah ilallah,
Abu Dhabi: Dar Imam Malik, Cet. ke-1.
Zaidan,
Abdul Karim, 2001, Ushulud-Da’wah, Beiruth: Muassasah Risalah, cet.
ke-9.
Mahmud,
Ahmad , a-Da’wah ilal-Islam, Mauqi’ul-Islam, ttn.
Moekijat, 1993. Teori Komunikasi Bandung: Mandar
Maju, ttn.
Palapah,
dan Syamsudin, Atang, 1983, Studi ilmu Komunikasi. Bandung :
Fakultas Ilnu komunikasi Universitas Padjajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar